Sistem Politik Kontemporer   Leave a comment

  1. Soal : ilmu politik, filsafat politik, ideologi politik, dan pemikiran politik merupakan bidang ilmu politik yang berbeda-beda. Jelaskan pengertian masing-masing istilah tersebut, dan apa perbedaannya?

–          Ilmu Politik

 

Ilmu politik merupakan ilmu yang mempelajari suatu segi khusus dari kehidupan masyarakat yang menyangkut soal kekuasaan. Secara umum ilmu politik ialah ilmu yang mengkaji tentang hubungan kekuasaan, baik sesama warga negara, antar warga negara dan negara, maupun hubungan sesame negara. Yang menjadi pusat kajiannya adalah upaya untuk memperoleh kekuasaan, usaha mempertahankan kekuasaan, penggunaan kekuasaan tersebut dan juga bagaimana menghambat penggunaan kekuasaan. Beberapa definisi yang diberikan para ahli tentang ilmu politik,diantaranya :

 

  • Menurut Bluntschli, Garner dan Frank Goodnow menyatakan bahwa ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari lingkungan kenegaraan.
  • Seely dan Stephen Leacock, ilmu politik merupakan ilmu yang serasi dalam menangani pemerintahan.
  • Paul Janet menyikapi ilmu politik sebagai ilmu yang mengatur perkembangan negara begitu juga prinsip-prinsip pemerintahan
  • Lasswell menyetujui ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari pengaruh dan kekuasaan.

 

–          Filsafat Politik

 

Filsafat politik merupakan pemikiran-pemikiran yang berkaitan tentang politik. Bidang politik merupakan tempat menerapkan ide filsafat. Ada berbagai macam ide-ide filsafat yang ikut mendorong perkembangan poloitk modern yaitu liberalisme, komunisme, pancasila dan lain-lain.

 

  • Bagi Plato, filsafat politik adalah upaya untuk membahas dan menguraikan berbagai segi kehidupan manusia dalam hubungannya dengan negara. Ia menawarkan konsep pemikiran tentang manusia dan negara yang baik dan ia juga mempersoalkan cara yang harus ditempuh untuk mewujudkan konsep pemikiran. Bagi Plato, manusia dan negara memiliki persamaan hakiki. Oleh karena itu, apabila manusia baik negara pun baik dan apabila manusia buruk negara pun buruk. Apabila negara buruk berarti manusianya juga buruk, artinya negara adalah cerminan manusia yang menjadi warganya.
  • Bagi Agustinus, filsafat politik adalah pemikiran-pemikiran tentang negara. Menurutnya negara dibagi 2 yaitu negara Allah yang dikenal dengan negara surgawi ”kerajaan Allah” dan negara sekuler yang dikenal dengan negara duniawi. Kehidupan di dalam Negara Allah diwarnai dengan iman, ketaatan,dan kasih Allah. Sedangkan Negara Sekuler ”duniawi”, menurutnya identik dengan negara cinta pada diri sendiri atau cinta egois ketidakjujuran, penggambaran hawa nafsu, keangkuhan, dosa dan lain-lain. Dengan jelas bahwa filsafat politik negara Allah Agustinus merupakan penjelmaan negara ideal Plato.
  • Bagi Machiavelli, filsafat politik adalah ilmu yang menuntut pemikiran dan tindakan yang praktis serta konkrit terutama berhubungan dengan negara. Baginya, negara harus menduduki tempat yang utama dalam kehidupan penguasa. Negara harus menjadi kriteria tertinggi bagi aktivitas sang penguasa. Negara harus dilihat dalam dirinya tanpa harus mengacu pada realitas apa pun di luar negara.

 

 

–          Ideologi Politik

 

Ideologi politik adalah himpunan nilai-nilai,ide,norma-norma,kepercayaan dan keyakinan, yg dimiliki seorang atau sekelompok orang,atas dasar mana dia menentukan sikapnya terhadap kejadian dan problema politik yg dihadapinya dan yg menentukan tingkah laku politiknya. Dalam ilmu sosial, ideologi politik adalah sebuah himpunan ide dan prinsip yang menjelaskan bagaimana seharusnya masyarakat bekerja, dan menawarkan ringkasan order masyarakat tertentu. Ideologi politik biasanya mengenai dirinya dengan bagaimana mengatur kekuasaan dan bagaimana seharusnya dilaksanakan. Teori komunis Karl Marx, Friedrich Engels dan pengikut mereka, sering dikenal dengan marxisme, dianggap sebagai ideologi politik paling berpengaruh dan dijelaskan lengkap pada abad 20. Contoh ideologi lainnya termasuk : anarkisme, kapitalisme, komunisme, komunitarianisme, konservatisme, neoliberalisme, demokrasi, kristen, fasisme, monarkisme, nasionalisme, nazisme, liberalisme, libertarianisme, sosialisme, dan demokrat sosial.

Kepopuleran ideologi berkat pengaruh dari ” moral entrepreneurs”, yang kadangkala bertindak dengan tujuan mereka sendiri. Ideologi politik adalah badan dari ideal, prinsip,doktrin, mitologi atau simbol dari gerakan sosial, institusi, kelas atau grup besar yang memiliki tujuan politik dan budaya yang sama. Merupakan dasar dari pemikiran politik yang menggambarkan suatu partai politik dan kebijakannya.

Ada juga yang memakai agama sebagai ideologi politik. Hal ini disebabkan agama tersebut mempunyai pandangan yang menyeluruh tentang kehidupan. Islam, contohnya adalah agama yang holistik

 

–          Pemikiran Politik

pemikiran politik sejak zaman Yunani hingga Karl Marx di abad ke-19 merupakan pandangan modern tentang negara yang merupakan hasil dari perkembangan dialektis dari perdebatan . Jadi Pemikiran itu muncul sebagai reaksi dari zamannya.

Perbedaan:

 

Filsafat Politik :

  • Metodenya deduktif
  • Rasional
  • Logis
  • Abstrak
  • Lintas kosmos
  • Nilai-nilai
  • Nalar-nalar

 

 

Ilmu Politik :

  • Metodenya induktif
  • Empiris
  • Teruji
  • Kongkrit
  • Faktual
  • Tesis-tesis
  • Riset

 

  1. Soal : Beberapa pemikiran politik yang ada berkembang sebelum masa perjuangan kemerdekaan antara lain : a.) Konsep Negara = Kerajaan, b.) Konsepsi Kosmologis, c.) Konsepsi Kesaktian, d.) Beberapa pengaruh Islam, jelaskan keempat pemikiran tersebut berdasarkan praktek kekuasaan politik pada masa tersebut?

 

–          Negara = Kerajaan

Istilah negara adalah istilah politik di masa kini dengan pengertian yang relatif baru.    Pada masa lalu negara bermakna mirip dengan kerajaan. Namun perlu dipertegas bahwa tidak semua kepala negara adalah raja. Ciri kerajaan adalah dinasti ( keluarga turun-temurun ), bahkan cenderung menganggap bahwa kerajaan itu milik raja. Ketergantungan negara pada diri raja sangat kuat. Bila dinasti hilang, maka kerajaan lenyap dari muka bumi. Menurut Machiavelli, ada dua bentuk negara yang paling penting, yaitu republik dan monarki. Ia mengatakan: seluruh negara dan dominion yang menguasai atau yang telah menguasai umat manusia berbentuk republik atau monarkhi. Filsafat politik Machiavelli berangkat dari desakan keadaan yang menuntut pemikiran dan tindakan yang praktis serta konkrit. Oleh sebab itu, karya tulisnya menawarkan pemikiran-pemikiran yang praktis dan konkrit. Namun tidak berarti bahwa demi kepraktisan itu, lalu pemikiran-pemikirannya menjadi dangkal. Justru aspek kedalamanyang menopang pemikiran-pemikiran praktisnya itu membuat ia benar-benar pantas disebut sebagai seorang  filsuf politik yang handal dan produktif.

–          Konsepsi Kosmologis

Kedudukan raja sangat tinggi, sangat diagungkan, dan kata-katanya sangat memutuskan. Raja-raja, terutama pada masa Hindu, dianggap merupakan penjelmaan, penitisan atau inkarnasi dari Dewa Wisnu dan Syiwa. Ken Arok, raja pertama Singosari diakui sebagai penjelmaan Batara Guru, walaupun latar belakangnya adalah seorang perampok dan keturunan petani biasa. Juga raja Airlangga, ia disamakan dengan Wisnu. Hayam Wuruk bahkan disebut sebagai dewa dari segala dewa. Raja adalah perantara antara dunia yang didiami manusia dengan dunia dewa-dewa. Raja menduduki tempat yang sakral dan menjadi pusat masyarakat. Bentuk lahiriah kerajaan pun disesuaikan dengan khayalan jagat raya, dengan keraton sebagai pusatnya.

Dalam rangka ini maka sumpah atau kutukan raja dipercaya mematikan. Segala yang dikerjakan oleh raja dianggap baik. Oleh karena itu, kedatangan raja dan pengiringnya ke suatu tempat harus diterima semeriah mungkin, dengan segala macam kesenangan, bahkan perempuan-perempuan cantik. Meski demikian berkuasanya raja, rakyat memiliki hak pepe. Hak pepe adalah hak rakyat untuk menyatakan proses dan ketidaksenangan atas keputusan penguasa. Rakyat berkumpul di alun-alun yang terdapat dihadapan rumah penguasa setempat, dan duduk diam sampai tuntutan mereka dipenuhi. Namun bila tidask berhasil, rakyat akan mengungsi ke daerah lain yang tidak terjangkau oleh penguasa.

 

–          Konsepsi Kesaktian

Konsepsi kesaktian lebih lama berakar dalam masyarakat sebelum datangnya pengaruh Hindu-Budha, yakni pada era berkembangnya animisme dan dinamisme. Pikiran animisme mengajarkan pada tiap benda mempunyai semangat. Sedangkan dalam dinamisme semangat itu dapat berpindah-pindah. Kata-kata dan pengertian tuah dan sakti berpangkal pada kekuatan animisme dan dinamisme, sangat mempengaruhi masyarakat.

Orang-orang yang bertuah dan sakti biaanya terdapat pada orang tua yang dengan sendirinya dianggap mempunyai pengetahuan lebih daripada orang muda. Oleh sebab itu penguasa biasanya dipilih dari kalangan orang tua, karena lebih mengetahui soal pantangan, tabu maupun hal lain menyangkut kehidupan masyarakat.

 

–          Beberapa Pengaruh Islam

Sejak masuknya Islam ke bumi nusantara hingga awal abad ke 20, pengaruh Islam banyak mengutamakan persoalan ibadat. Maslah yang mencakup bidang muamalat tidak hidup, kecuali yang menyangkut ibadat seperti zakat dan fitrah. Dengan demikian, maka berkembang fikih dan sufisme atau mistik. Sufisme di Indonesia telah bercampur dengan mistik tua, baik yang berasal dari Hindu-Budha, atau yang lebih lama lagi. Hal ini menjadikan kedudukan guru atau syeikh dalam tarikat menjadi sangat penting dalam masyarakat. Perkataan kyai, syekh, jarang dibantah, dan fatwanya dianggap memutuskan.

Ditengah suasana itu, kaum muslimin Indonesia harus berhadapan dengan penjajahan Portugis, Belanda dan Inggris yang masih memendam semangat perang salib. Dengan demikian, perhatian muslim Indonesia belum sampai pada usaha yang lebih luas daripada peribadatan.

 

  1. Soal : Konsep kekuasaan Jawa berbeda secara radikal dengan Konsepsi yang berkembang di Barat sejak Zaman Pertengahan, dan dari perbedaan ini sudah logis timbul pandangan-pandangan yang berbeda pula mengenai cara-cara berjalannya politik dan sejarah. Coba saudara uraikan perbedaan antara Konsepsi Kekuasaan Jawa dan Konsepsi Kekuasaan Barat

 

Sejak tahun 1950-an hingga 1990-an kalangan akademisi dan para politisi mempercayai bahwa konsep kekuasaan Jawa masih mendominasi dalam ranah politik IndonesiaDi dalam konsep kekuasaan Jawa, seorang yang berkuasa tidak hanya dapat memerintah tetapi juga harus menguasai tanah dan rakyatnya. Antara jagat makro dan mikro harus berada dalam satu tangan kekuasaan. Apabila ada yang terlepas maka kekuasaan menjadi melemah. Maka bentuk otoritarian kekuasaan dalam paham kekuasaan itu akan selalu nampak dan harus dipertahankan. Di samping itu dalam suatu kekuasaan harus dicarikan legitimasi untuk memperkuat kekuasaannya baik dari sisi keturunan maupun benda-benda keramat yang dimiliki yang menunjang karisma.Karisma adalah anugerah Yang Maha Kuasa yang dikonstruksikan secara teologis dan sosiologis. Maka dalam konsep kekuasaan itu, semuanya harus menyatu. Yang memiliki kekuasaan dianggap pemilik segala-galanya. Dalam konteks itu sebutan sebagai “manunggaling kawula Gusti”, bersatunya rakyat dengan rajanya melekat pada pemilik otoritas kekuasaan.

Pada Kekuasaan Jawa bukannya tidak memiliki media penyalur aspirasi. Protes pepe dianggap sebagai bentuk demokrasi. Rakyat yang tidak menyetujui kebijakan Raja, maka mereka berbondong-bondong menuju alun-alun keraton dengan bertelanjang dada di terik matahari yang menyengat. Adapun aspirasinya diterima atau tidak, itu lain persoalan. Bagi pendapat lain cara itu tidak dianggap sebagai bagian dari demokrasi yang sesungguhnya karena hanya dianggap sebagai protes diam, dan mereka tidak dapat menyalurkan aspirasinya.

Di tahun 1950-an para politisi dan pengamat sering membuat vis a visantara kekuasaan Jawa dan kekuasaan luar Jawa yang diwakili oleh budaya minang dalam melihat kekuasaan yang acapkali berganti dalam konstelasi politik saat itu. Kekuasaan Jawa dianggap otoritarian sementara luar Jawa berkecendrungan demokratis. Taufik Abdullah (sejarawan), melihat kekuasaan yang berada di Sumatera adalah kekuasaan yang berasal dari pesisir sehingga interaksi antara masyarakat yang satu dengan yang lain selalu terjadi. Kekuasaan yang ada di Sumatera tidak menguasai semuanya alias hanya menguasai tanah sehingga manakala ada ketidakpuasan rakyat pada penguasa, rakyatnya dapat berpindah ke daerah lainnya tetapi apabila rakyatnya merasa diperlakukan baik, sang raja dijunjung tanpa reserve. Ini yang kemudian dikenal dengan “Raja Adil Raja disembah, Raja lalim raja disanggah.”

Pergulatan politik di tahun 1950-an dianggap sebagai pergulatan antara dua bentuk kekuasaan itu namun setelah tahun 1970-an kekuasaan Jawa berkecendrungan mendominasi kehidupan politik nasional hingga munculnya era reformasi di tahun 1998 yang mulai merubah tatanan kekuasaan yang tidak lagi tersentralisir.

Berbeda dengan Anderson dan Taufik Abdullah, Max Weber dalam  Sosiologi klasik membagi tiga jenis otoritas dalam konteks kekuasaan. Pertama adalah otoritas legal rasional. Kekuasaan pada otoritas ini dilegitimasi oleh aturan-aturan eksplisit dan prosedur rasional yang menentukan mana yang benar dan mana yang salah, semuanya diundangkan. Kedua adalah otoritas tradisional, di mana kekuasaan dilegitimasi oleh kesakralan kebiasaan-kebiasaan lama. Ketiga adalah otoritas karismatik, kekuasaan dilegitimasi oleh manusia super yang luar biasa atau atribut-atribut supernatural yang dilekatkan orang pada seorang pemimpin.

Pada dua otoritas terakhir banyak dimiliki para pemilik otoritas pada masyarakat agraris, dimana antara yang berkuasa dengan rakyat terjadi hubungan yang bersifat personal karena tingkat kehidupan masyarakatnya tidak kompleks. Akan tetapi pada masyarakat industri, rasionalitas otoritas dikedepankan karena situasi masyarakatnya yang demikian kompleks. Kekuasaan diatur melalui undang-undang dengan dilegitimasi orang banyak yaitu melalui kesepakatan-kesepakatan atau kontrak sosial. Namun demikian pada masyarakat modern dua otoritas terakhir masih dijumpai dari pemilik  otoritas terutama yang berkuasa dengan cara otoriter. Kekuasaan yang dimiliki seperti otoritas absolute sebagaimana yang  dikatakan Raja Louis IV dari Perancis “L’etat c’est moi” (negara adalah aku). Kondisi yang tercipta adalah apabila terjadi perbedaan pandangan antara rakyat dengan raja akan dianggap sebagai pembangkangan. Maka berlaku zero zum game, para pembeda harus dihabisi sehabis-habisnya.

Di dalam kekuasaan ‘tidak ada matahari kembar’. Dominasi kekuasaan hanya dilakukan oleh satu personal. Legal rasional kekuasaan dalam konteks ini tidak terdapat padahal dalam birokrasi modern (sipil/militer) memiliki bagian-bagian yang bekerja sebagaimana mestinya untuk menopang sebuah kekuasaan yang sedang berjalan. Barangkali tidak akan ada matahari kembar tetapi matahari-matahari kecil tentu terdapat yang mengelilingi pusat matahari. Ini tentu saja harus diayomi dan dipelihara dan diberi kepercayaan untuk menjalankan perannya sesuai dengan fungsinya. Namun kondisi itu tidak akan terdapat apabila keinginan mendominasi kekuasaan selalu mengemuka dan kekhawatiran kehilangan kekuasaan terus menjelma. Inilah sebuah bentuk kekuasaan yang dikatakan Weber dengan otoritas tradisional.

Menilik pada konsep kekuasaan itu maka akan menarik melihat suatu model kepemimpinan. Pemimpin adalah konsep kultural, ada hubungan yang dipimpin dengan yang memimpin. Hal ini berbeda dengan Pimpinan, dan Elite  serta bisa diperluas dengan model hirarkis, yang merupakan konsep sosiologis, tidak ada hubungan emosional. Orang di atas kami di bawah. Pada taraf ini adagium pemimpin adalah bukan dicipta tetapi dilahirkan, barangkali ada benarnya. Banyak institusi yang menciptakan pemimpin tetapi yang menjadi pemimpin dapat dihitung. Maka disini perlu dibedakan antara pimpinan dengan pemimpin. Yang dicipta mungkin dapat menjadi pimpinan/manajer tetapi belum tentu dapat menjadi pemimpin tetapi pemimpin yang dilahirkan akan terdapat pada zamannya dari suatu situasi kondisi masyarakat yang ada.

Moralitas seorang pimpinan/pemimpin dapat dilihat ketika kekuasaan berada di tangannya meski norma-norma yang dijelaskan dalam suatu ketentuan dapat dihapalkannya. Kita mengenal 11 Azaz Kepemimpinan sebagai norma dasar berperilaku yang baik demikian pula warisan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW seperti sifat Sidik, tabliq, fathonahdan amanah yang harus diteladani, tetapi dengan berjalannya waktu kepemimpinan seseorang dapat disimak dari langkah-langkah yang diambilnya saat memegang kekuasaan apakah layak menjadi pemimpin atau hanya sebatas manajer/pimpinan atau lebih buruk lagi karena tidak memahami distribusi kekuasaan dalam otoritas modern seperti gambaran Weber.

Kaum muda masa kini tentu saja dapat memilahnya antara pemimpin dengan pimpinan. Dengan bekal pengetahuan yang dimiliki karena memiliki pendidikan yang lebih baik, berdiskusi, membaca dan berdialog serta berargumen tepat yang didasari pengetahuan luas akan menunjang menjadi pemimpin/pimpinan yang jauh lebih baik.Dalam bertindak dan melangkah, pengetahuan harus menjadi pijakan utama. “Knowledge is power”, kata Francis Fukuyama namun demikian “The way we imagine the future has a powerful impact on decissions we make today” perlu menjadi renungan bersama. Apabila ini dilakukan maka kalangan muda saat ini akan menjadi pelopor kebangkitan Indonesia.

Konsepsi kekuasaan Barat, Demokrasi ala Barat jelas bersifat duniawi dengan sumber-sumber yang dapat dilihat secara kasat mata. Kekuasaan dalam pengertian ini merupakan perpaduan antara kecerdasan, kekuatan (uang) dan legitimasi. Menurut Ensiklopedi Wikipedia, demokrasi bermakna : “Suatu bentuk pemerintahan di mana kekuasaan dipegang secara langsung maupun tidak langsung oleh rakyat melalui sistem pemilihan (suara terbanyak).”

Di dalam prakteknya, di negara-negara Barat, demokrasi dikendalikan oleh suatu kelompok yang kuat. Yang saya maksud kelompok yang kuat di sini adalah orang-orang yang memiliki uang yang paling banyak.

Sudah tidak asing lagi bagi kita bahwa di negara-negara Barat, orang-orang berduitlah yang menguasai sistem pemerintahan. Jika anda ingin menjadi Presiden, Gubernur atau Walikota, misalnya, anda mesti mempunyai uang yang banyak untuk membiayai kampanye pemilihan jabatan tersebut atau paling tidak, anda mesti meminta dukungan dari orang-orang berduit agar mereka memberikan dana bagi anda. Memang di dalam demokrasi ala Barat, duitlah yang berkuasa bukan lagi moral dan keadilan.

  1. Soal : Beberapa Ideologi Barat yang berpengaruh terhadap pemikiran politik Indonesia antara lain : Sosialisme, Komunisme, Liberalisme, Islam, Nasionalisme. Coba anda jelaskan mengenai ideologi-ideologi tersebut dan pengaruhnya terhadap pemikiran politik Indonesia?

 

-Sosialisme

Sosialisme adalah pandangan hidup dan ajaran kamasyarakatan tertentu , yang berhasrat . Sosialisme sebagai ideology politik adalah suatu keyakinan dan kepercayaan yang menguasai sarana-sarana produksi serta pembagian hasil-hasil produksi secara merata dianggap benar oleh para pengikutnya mengenai tatanan politik yang mencita-citakan terwujutnya kesejahteraan masyarakat secara merata melalui jalan evolusi, persuasi , konstitusional –parlementer , dan tanpa kekerasan. Sosialisme sebagai ideology politik timbul dari keadaan yang kritis di bidang sosial, ekonomi dan politik akibat revousi industri . Adanya kemiskinan , kemelaratan ,kebodohan kaum buruh , maka sosialisme berjuang untuk mewujudkan kesejahteraan secara merata.

Dalam perkembangan sosialisme terdiri dari pelbagai macam bentuk seperti sosialisme utopia , sosialisme ilmiah yang kemudian akan melahirkan pelbagai aliran sesuai dengan nama pendirinya atau kelompok masyarakat pengikutnya seperti Marxisme-Leninisme ,Febianisme , dan Sosial Demokratis.

Sosialisme dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada masyarakat –bangsa yang memiliki tradisi demokrasi yang kuat. Unsur-unsur pemikiran yang ada dalam gerakan sosialis sebagimana tergambar di Inggris mencakup : (a) agama ; (b) idealisme e tis dan estetis ; (c) empiris Fabian ; dan (d) liberalisme .

Sosialisme yang ada disetiap negara memiliki ciri khas sesuai dengan kondisi sejarahnya . Dalam sosialisme tidak ada garis sentralitas dan tidak bersifat internasionalSosialisme di negara-negara berkembang mengandung banyak arti . Sosialisme berarti cita-cita keadilan sosial ; persaudaraan ; kemanusiaan dan perdamaian dunia yang berlandaskan hukum ; dan komitmen pada perencanaan.

Di negara-negara Barat ( lebih makmur) sosialisme diartikan sebagai cara mendistribusikan kekayaan masyarakat secara lebih merata sedangkan di Negara berkembang sosialisme diartikan sebagai cara mengindustrialisasikan Negara yang belum maju atau membangun suatu perekonomian industri dengan maksud manaikkan tingkat ekonomi dan pendidikan masyarakat .

Sosialisme sebagai idiologi politik yang merupakan keyakinan dan kepercayaan yang dianggap benar mengenai tatanan politik yang mencita-citakan terwujudnya kesejahteraan masyarakat secara merata melalui jalan evolusi, persuasi, konstitusional-parlementer dan tanpa kekerasan. Sosialisme sebagai ideologi politik timbul dari keadaan yang kritis di bidang sosial, ekonomi dan politik akibat revousi industri . Adanya kemiskinan , kemelaratan ,kebodohan kaum buruh , maka sosialisme berjuang untuk mewujudkan kesejahteraan secara merata.
Dalam perkembangan sosialisme terdiri dari pelbagai macam bentuk seperti sosialisme utopia, sosialisme ilmiah yang kemudian akan melahirkan pelbagai aliran sesuai dengan nama pendirinya atau kelompok masyarakat pengikutnya seperti Marxisme-Leninisme, Febianisme , dan Sosial Demokratis. Sosialisme dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada masyarakat –bangsa yang memiliki tradisi demokrasi yang kuat .

 

Dari tulisan diatas jelaslah sangat penting sebuah ideologi untuk bisa dipahami dengan kesadaran rasional dan dimiliki sebagai sebuah pijakan langkah kedepan bagi perkembangan sebuah masyarakat. Ideologi tidak bisa dipahami secara buta dan dogmatis, karena masyarakat terus berubah dan berkembang sesuai dengan situasinya baik secara subyektif maupun obyektif. Secara subyektif, kesadaran masyarakat memang harus dibangun. Problem di Indonesia untuk hal ini adalah pemahaman ideologi bukanlah di pelajari secara rasional, melainkan sekedar penerimaan warisan tradisi akan pergerakan politik yang mengatasnamakan ideologi. Orang lebih cenderung mengidentifikasi atau menolak dirinya sebagai sebuah penganut ideologi tertentu bukan karena ia belajar memahami nilai ideologi tersebutsecara rasional, melainkan karena faktor sejarah dan kepentingan yang lebih dominan terhadap dirinya. Demikian pula secara obyektif, problem yang ada dimasyarakat seperti saat ini tentunya juga butuh sebuah keyakinan yang kuat terhadap cita cita perubahan. Ideologi sebagai sebuah cita cita haruslah bisa diandalkan dan dipercaya untuk bisa memberi jalan terhadap permasalahan tersebut.
Maka meski dengan usia baru 100 tahun sejak para founding fathers seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir dan lainnya, Republik Indonesia boleh dibilang sangatlah miskin akan pemahaman ideologi yang berkelanjutan. Orang lebih senang melihat figur tertentu untuk tampil ke panggung politik bila dibandingkan tahu secara jelas pemikiran pemikiran macam apa yang dihasilkan oleh figur tersebut. Inilah yang disebut favoritisme, seperti halnya yang terjadi di Amerika Latin pada abad ke 19 dimana banyak junta militer jatuh bangun berkuasa silih berganti.
Sosialisme sebagai ideologi yang telah menjadi pilihan kita, tentunya juga harus dipahami dan dijalankan dalam konteks nalar yang rasional. Artinya, mengetahui dan meyakini sosialisme bukanlah sekedar memahami sejarah, mendogmakan pemikiran lampau dan enggan lepas dari pewarisan tradisi yang sudah ada. Sosialisme harus mampu menjawab berbagai tantangan perkembangan masyarakat dan zaman yang kini sedang terjadi. Seperti halnya problem lingkungan hidup, kemanusiaan, gender dan nilai etis moral lainnya yang pada dekade lalu belum dianggap sebagai suatu hal yang sangat penting.       Oleh karena itu Sosialisme yang harus diperjuangkan adalah sosialisme yang benar-benar mengakui nilai nilai kemanusiaan, sosialisme yang benar-benar kerakyatan dalam arti mampu secara maksimal memberi rasa keadilan terhadap masyarakat dan sosialisme yang secara sungguh-sungguh tumbuh karena gagasan-gagasan mulia, bukan sekedar jargon masa lalu.
Sumbangan sosialisme tradisional seperti Marxisme dan kritik anarkisme terhadap demokrasi tentunya juga merupakan hal yang patut untuk diperhatikan. Demokrasi telah menjadi pilihan kita dan kita secara sadar paham segala kemungkinan penyimpangan-penyimpangannya. Penyalahgunaan kekuasaan, pengatasnamaan hukum, konflik kepentingan mayoritas–minoritas, adalah hal-hal yang telah tampak di depan mata. Indonesia memang sedang dalam masa transisi. Hal inilah yang harus benar benar dijaga dan diperhatikan agar perubahan yang sekarang terjadi tidak akan salah arah dalam proses berdemokrasi sebagai pelajaran pertama menuju masyarakat yang adil dan makmur.

–          Komunisme

Istilah komunisme sering dicampuradukkan dengan komunis internasional. Komunisme atau Marxismeadalah ideologi dasar yang umumnya digunakan oleh partai komunis di seluruh dunia. sedangkan komunis internasional merupakan racikan ideologi ini berasal dari pemikiran Lenin sehingga dapat pula disebut “Marxisme-Leninisme”.

Dalam komunisme perubahan sosial harus dimulai dari pengambil alihan alat-alat produksi melalui peran Partai Komunis. Logika secara ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh atau yang lebih dikenal dengan proletar (lihat: The Holy Family [1]), namun pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil dengan melalui perjuangan partai. Partai membutuhkan peran Politbiro sebagai think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa berhasil jika dicetuskan oleh Politbiro. Inilah yang menyebabkan komunisme menjadi “tumpul” dan tidak lagi diminati karena korupsi yang dilakukan oleh para pemimpinnya.

Komunisme sebagai anti-kapitalisme menggunakan sistem partai komunis sebagai alat pengambil alihan kekuasaan dan sangat menentang kepemilikan akumulasi modal atas individu. pada prinsipnya semua adalah direpresentasikan sebagai milik rakyat dan oleh karena itu, seluruh alat-alat produksi harus dikuasai oleh negara guna kemakmuran rakyat secara merata akan tetapi dalam kenyataannya hanya dikelolah serta menguntungkan para elit partai, Komunisme memperkenalkan penggunaan sistim demokrasi keterwakilan yang dilakukan oleh elit-elit partai komunis oleh karena itu sangat membatasi langsung demokrasi pada rakyat yang bukan merupakan anggota partai komunis karenanya dalam paham komunisme tidak dikenal hak perorangan sebagaimana terdapat pada paham liberalisme.

Secara umum komunisme berlandasan pada teori Dialektika materi oleh karenanya tidak bersandarkan pada kepercayaan agama dengan demikian pemberian doktrin pada rakyatnya, dengan prinsip bahwa “agama dianggap candu” yang membuat orang berangan-angan yang membatasi rakyatnya dari pemikiran ideologi lain karena dianggap tidak rasional serta keluar dari hal yang nyata (kebenaran materi).

Indonesia pernah menjadi salah satu kekuatan besar komunisme dunia. Kelahiran PKI pada tahun 1920an adalah kelanjutan fase awal dominasi komunisme di negara tersebut, bahkan di Asia. Tokoh komunis internasional seperti Tan Malakamisalnya. Ia menjadi salah satu tokoh yang tak bisa dilupakan dalam perjuangan di berbagai negara seperti di CinaIndonesiaThailand, danFilipina. Bukan seperti Vietnam yang mana perebutan kekuatan komunisme menjadi perang yang luar biasa. Di Indonesia perubuhan komunisme juga terjadi dengan insiden berdarah dan dilanjutkan dengan pembantaian yang banyak menimbulkan korban jiwa. Dan tidak berakhir disana, para tersangka pengikut komunisme juga diganjar eks-tapol oleh pemerintahan Orde Baru dan mendapatkan pembatasan dalam melakukan ikhtiar hidup mereka.

 

–          Liberalisme

Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologipandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasanadalah nilai politik yang utama.

Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Liberalisme menghendaki adanya, pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang mendukung usaha pribadi (private enterprise) yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang transparan, dan menolak adanya pembatasan terhadap pemilikan individu. Oleh karena itu paham liberalisme lebih lanjut menjadi dasar bagi tumbuhnyakapitalisme.

Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama mendasarkan kebebasan mayoritas. Bandingkan [2].

Liberalisme merupakan salah satu contoh ideologi pragmatis. Biasanya tidak satu ideologi saja yang diperkenankan berkembang dalam masyarakat ini, tetapi ada satu yang dominan. Liberalisme sebagai suatu ideologi pragmatis muncul pada abad pertengahan di kalangan masyarakat Eropa. Masyarakat Eropa pada saat itu secara garis besar terbagi atas dua, yakni kaum aristokrat dan para petani. Kaum aristokrat diperkenankan untuk memiliki tanah, golongan feodal ini pula yang menguasai proses politik dan ekonomi, sedangkan para petani berkedudukan sebagai penggarap tanah yang dimiliki oleh patronnya, yang harus membayar pajak dan menyumbangkan tenaga bagi sang patron. Bahkan di beberapa tempat di Eropa, para petani tidak diperkenankan pindah ke tempat lain yang dikehendaki tanpa persetujuan sang patron (bangsawan). Akibatnya, mereka tidak lebih sebagai milik pribadi sang patron. Sebaliknya, kesejahteraan para penggarap itu seharusnya ditanggung oleh sang patron. Industri dikelola dalam bentuk gilde-gilde yang mengatur secara ketat, bagaimana suatu barang diproduksi, berapa jumlah dan distribusinya. Kegiatan itu dimonopoli oleh kaum aristokrat. Maksudnya, pemilikan tanah oleh kaum bangsawan, hak-hak istimewa gereja, peranan politik raja dan kaum bangsawan, dan kekuasaan gilde-gilde dalam ekonomi merupakan bentuk-bentuk dominasi yang melembaga atas individu. Dalam konteks perkembangan masyarakat itu muncul industri dan perdagangan dalam skala besar, setelah ditemukan beberapa teknologi baru. Untuk mengelola industri dan perdagangan dalam skala besar-besaran ini jelas diperlukan buruh yang bebas dan dalam jumlah yang banyak, ruang gerak yang leluasa, mobilitas yang tinggi dan kebebasan berkreasi. Kebutuhan-kebutuhan baru itu terbentur pada aturan-aturan yang diberlakukan secara melembaga oleh golongan feodal. Yang membantu golongan ekonomi baru terlepas dari kesukaran itu ialah paham liberal.
Liberalisme tidak diciptakan oleh golongan pedagang dan industri, melainkan diciptakan oleh golongan intelektual yang digerakkan oleh keresahan ilmiah dan artistik umum pada zaman itu. Keresahan intelektual tersebut disambut oleh golongan pedagang dan industri, bahkan hal itu digunakan untuk membenarkan tuntutan politik yang membatasi kekuasaan bangsawan, gereja dan gilde-gilde. Mereka tidak bertujuan semata-mata untuk dapat menjalankan kegiatan ekonomi secara bebas, tetapi juga mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Masyarakat yang terbaik (rezim terbaik), menurut paham liberal adalah yang memungkinkan individu mengembangkan kemampuan-kemampuan individu sepenuhnya. Dalam masyarakat yang baik, semua individu harus dapat mengembangkan pikiran dan bakat-bakatnya. Hal ini mengharuskan para individu untuk bertanggung jawab pada segala tindakannya baik itu merupakan sesuatu untuknya atau seseorang. Seseorang yang bertindak atas tanggung jawab sendiri dapat mengembangkan kemampuan bertindak. Menurut asumsi liberalisme inilah, John Stuart Mill mengajukan argumen yang lebih mendukung pemerintahan berdasarkan demokrasi liberal. Dia mengemukakan tujuan utama politik ialah mendorong setiap anggota masyarakat untuk bertanggung jawab dan menjadi dewasa. Hal ini hanya dapat terjadi manakalah mereka ikut serta dalam pembuatan keputusan yang menyangkut hidup mereka. Oleh karena itu, walaupun seorang raja yang bijaksana dan baik hati, mungkin dapat membuat putusan yang lebih baik atas nama rakyat dari pada rakyat itu sendiri, bagaimana pun juga demokrasi jauh lebih baik karena dalam demokrasi rakyat membuat sendiri keputusan bagi diri mereka, terlepas dari baik buruknya keputusan tersebut. Jadi,    ciri-ciri ideologi liberal sebagai berikut :

  • Pertama, demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang lebih baik.
  • Kedua, anggota masyarakat memiliki kebebasan intelektual penuh, termasukkebebasan berbicara, kebebasan beragama dan kebebasan pers.
  • Ketiga, pemerintah hanya mengatur kehidupan masyarakat secara terbatas. Keputusan yang dibuat hanya sedikit untuk rakyat sehingga rakyat dapat belajar membuat keputusan untuk diri sendiri.
  • Keempat, kekuasaan dari seseorang terhadap orang lain merupakan hal yang buruk. Oleh karena itu, pemerintahan dijalankan sedemikian rupa sehingga penyalahgunaan kekuasaan dapat dicegah. Pendek kata, kekuasaan dicurigai sebagai hal yang cenderung disalahgunakan, dan karena itu, sejauh mungkin dibatasi.
  • Kelima, suatu masyarakat dikatakan berbahagia apabila setiap individu atau sebagian besar individu berbahagia. Walau masyarakat secara keseluruhan berbahagia, kebahagian sebagian besar individu belum tentu maksimal. Dengan demikian, kebaikan suatu masyarakat atau rezim diukur dari seberapa tinggi indivivu berhasil mengembangkan kemampuan-kemampuan dan bakat-bakatnya. Ideologi liberalisme ini dianut di Inggris dan koloni-koloninya termasuk Amerika Serikat.

 

–          Islam

Ideologi Islam adalah sistim politik yang berdasar akidah agama Islam. istilah dan definisi ideologi Islammempunyai istilah dan definisi yang berbeda-beda diantara para pemikir terkemuka Islam.

Islam dilahirkan dari proses berfikir yang menghasilkan keyakinan yang teguh terhadap keberadaan (wujud) Allah sebagai Sang Pencipta dan Pengatur Kehidupan, alam semesta dan seluruh isinya, termasuk manusia. Darinya lahir keyakinan akan keadilan dan kekuasaan Allah Yang Maha Tahu dan Maha Pengatur, Allah telah mewahyukan aturan hidup, yaitu syariat Islam yang sempurna dan diperuntukkan bagi manusia. Syariat Islam tersebut bersumber pada Al Qur’an dan Al Hadist. Dari keyakinan ini tumbuhlah keyakinan akan adanya rasul dari golonganmanusia, yang menuntun dan mengajarkan manusia untuk mentaati penciptanya, dan meyakini akan adanya hari perjumpaan dengan Allah SWT. Aturan hidup yang dimaksud merupakan aturan hidup yang bersumber dari wahyu Allah. Aturan ini mengatur berbagai cara hidup manusia yang berlaku dimana saja dan kapan saja, tidak terikat ruang dan waktu. Dari peraturan yang mengikat individu ataupun masyarakatdan bahkan sistem kenegaraan. Seluruhnya ada diatur dalam Islam.

 

 

Ciri ideologi Islam

 

Di bawah ini adalah ciri-ciri ideologi Islam:

ü  Sumber: Wahyu Allah SWT kepada Rasulullah SAW.

ü  Dasar kepemimpinan ideologis: La ilaha illallah (menyatukan antara hukum Allah SWT dengan kehidupan).

ü  Kesesuaian dengan fitrah: Islam menetapkan manusia itu lemah. Jadi, segala aturan apapun harus berasal dari Allah SWT lewat wahyu-Nya.

ü  Pembuat hukum dan aturan: Allah SWT lewat wahyu-Nya. Akal manusia berfungsi menggali fakta dan memahami hukum dari wahyu.

ü  Fokus: Individu merupakan salah satu anggota masyarakat. Individu diperhatikan demi kebaikan masyarakat, dan masyarakat untuk kebaikan individu.

ü  Ikatan perbuatan: Seluruh perbuatan terikat dengan hukum syaro’. Perbuatan baru bebas dilakukan bila sesuai dengan hukum syaro’.

ü  Tujuan tertinggi yang hendak dicapai: Ditetapkan oleh Allah SWT, sebagaimana telah dibahas.

ü  Tolok ukur kebahagiaan: Mencapai ridho Allah SWT, yang terletak dalam ketaatan dalam setiap perbuatan.

ü  Kebebasan pribadi dalam berbuat: Distandarisasi oleh hukum syaro’. Bila sesuai, bebas dilakukan. Bila tidak, maka tidak boleh dilakukan.

ü  Pandangan terhadap masyarakat: Masyarakat merupakan kumpulan individu yang memiliki perasaan dan pemikiran yang satu serta diatur oleh hukum yang sama.

ü  Dasar perekonomian: Setiap orang bebas menjalankan perekonomian dengan membatasi sebab pemilikan dan jenis pemiliknya. Sedangkan jumlah kekayaan yang dimiliki tidak boleh dibatasi.

ü  Kemunculan sistem aturan: Allah SWT telah menjadikan bagi manusia sistem aturan untuk dijalankan dalam kehidupan yang diturunkan pada Nabi Muhammad SAW. Manusia hanya memahami permasalahan, lalu menggali hukum dari Al Qur’an dan As Sunnah.

ü  Tolok ukur: Halal dan haram.

ü  Penerapan hukum: Atas dasar ketakwaan individu, kontrol masyarakat dan penerapan dari masyarakat.

 

Selain ciri-ciri diatas, ideologi Islam juga memiliki beberapa karakteristik. Antara lain:

Ide

ü  Aqidah ‘aqliyyah: Rukun iman.

ü  Etika: Jalan yang Lurus

ü  Penyelesaian masalah hidup: Identetan hukum dalam ibadah, sosial masyarakat, ekonomipemerintahpendidikanpengadilan, dan akhlak.

Metode

ü  Penerapan: Khilafah Islamiyah.

ü  Penjagaan: Hukum Islam.

ü  Penyebarluasan ideologi: Dakwah dan jihad.

Penganut ideologi Islam percaya jika sebelum kehidupan adalah berasal dari Allah SWT, saat kehidupan bertujuan untuk mendapatkan ridha-Nya, dan setelah meninggal kembali kepada-Nya dengan pertanggungjawaban.

 

 

–          Nasionalisme

 

Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan   kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Para nasionalis menganggap negara adalah berdasarkan beberapa “kebenaran politik” (political legitimacy). Bersumber dari teori romantisme yaitu “identitas budaya”, debat liberalisme yang menganggap kebenaran politik adalah bersumber dari kehendak rakyat, atau gabungan kedua teori itu.

Ikatan nasionalisme tumbuh di tengah masyarakat saat pola pikirnya mulai merosot. Ikatan ini terjadi saat manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan tak beranjak dari situ. Saat itu, naluri mempertahankan diri sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan negerinya, tempatnya hidup dan menggantungkan diri. Dari sinilah cikal bakal tubuhnya ikatan ini, yang notabene lemah dan bermutu rendah. Ikatan inipun tampak pula dalam dunia hewan saat ada ancaman pihak asing yang hendak menyerang atau menaklukkan suatu negeri. Namun, bila suasanya aman dari serangan musuh dan musuh itu terusir dari negeri itu, sirnalah kekuatan ini.

Dalam zaman modern ini, nasionalisme merujuk kepada amalan politik dan ketentaraan yang berlandaskan nasionalisme secara etnik serta keagamaan, seperti yang dinyatakan di bawah. Para ilmuwan politik biasanya menumpukan penyelidikan mereka kepada nasionalisme yang ekstrem seperti nasional sosialismepengasingan dan sebagainya.

 

Beberapa bentuk nasionalisme

Nasionalisme dapat menonjolkan dirinya sebagai sebagian paham negara atau gerakan (bukan negara) yang populer berdasarkan pendapat warganegaraetnisbudaya, keagamaan dan ideologi. Kategori tersebut lazimnya berkaitan dan kebanyakan teori nasionalisme mencampuradukkan sebahagian atau semua elemen tersebut.

Nasionalisme kewarganegaraan (atau nasionalisme sipil) adalah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh kebenaran politik dari penyertaan aktif rakyatnya, “kehendak rakyat”; “perwakilan politik”. Teori ini mula-mula dibangun oleh Jean-Jacques Rousseau dan menjadi bahan-bahan tulisan. Antara tulisan yang terkenal adalah buku berjudulk Du Contract Sociale (atau dalam Bahasa Indonesia “Mengenai Kontrak Sosial”).

Nasionalisme etnis adalah sejenis nasionalisme di mana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat. Dibangun oleh Johann Gottfried von Herder, yang memperkenalkan konsep Volk (bahasa Jerman untuk “rakyat”).

Nasionalisme romantik (juga disebut nasionalisme organik, nasionalisme identitas) adalah lanjutan dari nasionalisme etnis dimana negara memperoleh kebenaran politik secara semulajadi (“organik”) hasil dari bangsa atau ras; menurut semangat romantisme. Nasionalisme romantik adalah bergantung kepada perwujudan budaya etnis yang menepati idealisme romantik; kisah tradisi yang telah direka untuk konsep nasionalisme romantik. Misalnya “Grimm Bersaudara” yang dinukilkan oleh Herder merupakan koleksi kisah-kisah yang berkaitan dengan etnis Jerman.

Nasionalisme Budaya adalah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya bersama dan bukannya “sifat keturunan” seperti warna kulitras dan sebagainya. Contoh yang terbaik ialah rakyat Tionghoa yang menganggap negara adalah berdasarkan kepada budaya. Unsur ras telah dibelakangkan di mana golongan Manchu serta ras-ras minoritas lain masih dianggap sebagai rakyat negaraTiongkok. Kesediaan dinasti Qing untuk menggunakan adat istiadat Tionghoa membuktikan keutuhan budaya Tionghoa. Malah banyak rakyatTaiwan menganggap diri mereka nasionalis Tiongkok sebab persamaan budaya mereka tetapi menolak RRC karena pemerintahan RRT berpaham komunisme.

Nasionalisme kenegaraan ialah variasi nasionalisme kewarganegaraan, selalu digabungkan dengan nasionalisme etnis. Perasaan nasionalistik adalah kuat sehingga diberi lebih keutamaan mengatasi hak universal dan kebebasan. Kejayaan suatu negeri itu selalu kontras dan berkonflik dengan prinsip masyarakat demokrasi. Penyelenggaraan sebuah ‘national state’ adalah suatu argumen yang ulung, seolah-olah membentuk kerajaan yang lebih baik dengan tersendiri. Contoh biasa ialah Nazisme, serta nasionalisme Turki kontemporer, dan dalam bentuk yang lebih kecil, Franquisme sayap-kanan di Spanyol, serta sikap ‘Jacobin‘ terhadap unitaris dan golongan pemusat negeri Perancis, seperti juga nasionalisme masyarakat Belgia, yang secara ganas menentang demi mewujudkan hak kesetaraan (equal rights) dan lebih otonomi untuk golongan Fleming, dan nasionalis Basque atau Korsika. Secara sistematis, bila mana nasionalisme kenegaraan itu kuat, akan wujud tarikan yang berkonflik kepada kesetiaan masyarakat, dan terhadap wilayah, seperti nasionalisme Turki dan penindasan kejamnya terhadap nasionalisme Kurdi, pembangkangan di antara pemerintahan pusat yang kuat di Spanyol dan Perancis dengan nasionalisme Basque, Catalan, dan Corsica.

Nasionalisme agama ialah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh legitimasi politik dari persamaan agama. Walaupun begitu, lazimnya nasionalisme etnis adalah dicampuradukkan dengan nasionalisme keagamaan. Misalnya, di Irlandia semangat nasionalisme bersumber dari persamaan agama mereka yaitu Katolik; nasionalisme di India seperti yang diamalkan oleh pengikut partai BJP bersumber dariagama Hindu.

Namun demikian, bagi kebanyakan kelompok nasionalis agama hanya merupakan simbol dan bukannya motivasi utama kelompok tersebut. Misalnya pada abad ke-18, nasionalisme Irlandia dipimpin oleh mereka yang menganut agama Protestan. Gerakan nasionalis di Irlandia bukannya berjuang untuk memartabatkan teologi semata-mata. Mereka berjuang untuk menegakkan paham yang bersangkut paut dengan Irlandia sebagai sebuah negara merdeka terutamanya budaya Irlandia. Justru itu, nasionalisme kerap dikaitkan dengan kebebasan

 

  1. Soal : Pada masa pra kemerdekaan pemikiran Nasionalisme untuk merdeka mendominasi pemikiran politik tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jelaskan mengenai pemikiran yang berkembang pada saat itu?

 

 

Nasionalisme yang lahir pra kemerdekaan tumbuh dari keprihatinan atau impian terhadap kemerdekaan hidup. Nasionalisme yang lahir sebagai anak haram Belanda karena pelopornya yakni intelektual bumiputera (dan non bumiputera, semisal Douwes Dekker) mendapat didikan Belanda, tapi lalu melawannya. Diawali dengan pada tahun 20 Mei 1908, manifestasi gerakan nasionalisme yang dipelopori oleh Dr. Soetomo dan Dr. Wahidin Sudiohusodo dalam sebuah organisasi bernama Boedi Oetomo yang pada awal berdirinya bertujuan untuk meningkatkan martabat rakyat dan bangsa dengan cara pengumpulan dana dan pemberian beasiswa. Pada perkembangan selanjutnya Boedi Oetomo berfungsi dengan Persatuan Bangsa Indonesia menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra) dengan pemikiran bahwa asas kebangsaan Jawa telah tidak sesuai dengan perkembangan kebangsaan. Nasionalisme menampakkan dirinya lagi 28 Oktober 1928 yang termanifestasikan dalam ikrar bersama para pemuda pejuang dari berbagai daerah dan ras yakni dengan dikumandangkannya Sumpah Pemuda. Jong Java, Sumateranen Bond, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi dan lain sebagainya bertemu dalam satu forum di Jl. Kramat Raya untuk menyatukan satu tekad bersama, satu rahim yang sama yaitu Indonesia.

 

  1. Soal : Perkembangan pemikiran politik di Indonesia digolongkan oleh Herbert Feith ke dalam 5 aliran pemikiran dan dikaitkan dengan 4 partai pemenang pemilu 1955. a.) Sebutkan dan jelaskan kelima pemikiran politik tersebut, b.) jelaskan keterkaitan pemikiran politik dengan kelima aliran yang dikemukakan oleh Herbert Feith dan Lance Castles tersebut?

–      Nasionalisme radikal, tradisionalisme Jawa, Islam, sosialisme demokratis, dan       komunisme

1.         Nasionalisme Radikal, aliran yang muncul sebagai respon terhadap kolonialisme dan berpusat pada Partai Nasionalis Indonesia (PNI).

2.         Tradisionalisme Jawa, penganut tradisi-tradisi Jawa. Pemunculan aliran ini agak kontoversial karena aliran ini tidak muncul sebagai kekuatan politik formal yang kongkret, melainkan sangat mempengaruhi cara pandang aktor-aktor politik dalam Partai Indonesia Raya (PIR), kelompok-kelompok Teosufis (kebatinan) dan sangat berpengaruh dalam birokrasi pemerintahan (pamong praja).

3.         Islam, yang terbagi menjadi dua varian; kelompok Islam Reformis (dalam bahasa Feith) atau Modernis dalam istilah yang digunakan secara umum , yang berpusat pada partai Masyumi; serta kelompok Islam konservatif, atau sering disebut tradisionalis yang berpusat pada Nahdatul Ulama.

4.         Sosialisme Demokrat yang juga menganbil inspirasi dari pemikiran Barat. Aliran ini muncul dalam Partai Sosialis Indonesia

5.         Komunisme yang mengambil konsep-konsep langsung maupun tidak langsung dari Barat, walaupun mereka seringkali menggunakan ideom politik dan mendapat dukungan kuat dari kalangan abangan tradisional. Komunisme mengambil bentuk utama sebagai kekuatan politik dalam Partai Komunisme Indonesia

 

Pemetaan aliran versi Herbert Feith terlihat lebih “canggih” dibandingkan dengan model trikotomi (abangan, santri dan Priyayi) dari Geertz karena tidak seperti Geertz yang hanya melihat tradisional religio political system, Feith melihat adanya dua sumber utama pemikiran politik di Indoensia. Pertama, bersumber dari tradisi (kebudayaan Hindu-Budha maupun Islam) dan yang kedua bersumber pada aliran pemikiran barat. Peluang bagi munculnya keragaman aliran politik dimungkinkan ketika muncul Maklumat Pemerintah yang ditanda tangani oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta, tanggal 3 November 1945, yang menyatakan bahwa “ Pemerintah menyukai timbulnya partai-partai politik, karena dengan adanya partai-partai itulah dapat dipimpin ke jalan yang teratur segala aliran paham yang ada dalam masyarakat”.  Selanjutnya Herbert Feith menyatakan bahwa berawal dua sumber utama pemikiran politik di Indoensia kemudian menghasilkan lima aliran politik. Kelima aliran itu muncul dalam diagram pemikiran politik antara tahun 1945-1965 yang dibuat oleh Herbert Feith:

 

 

 

Kiri kanan, berdasarkan pemetaan Herbert Feith diatas terlihat jelas bahwa hampir tidak ada satu aliran-pun- dari kelima aliran yang ada- yang tidak mempunyai garis singgung dengan aliran yang lainnya. Semuanya mempunyai garis singgung satu sama lain. Satu-satunya yang tidak mempunyai garis singgung adalah antara Komunisme dan Islam, yang secara jauh atau secara tidak langsung dihungkan oleh Tradisionalisme Jawa (Prisma: 219). Selebihnya aliran yang ada saling bertumpangtindih satu sama lainnya.
Secara sederhana, tumpah tindih antara kelima aliran itu bisa diartikan sebagai jarak politik yang semakin dekat sekaligus sebagai jalan untuk menuju integrasi politik dari segi orientasi ideologis. Akan tetapi sejarah justru menunjukkan bahwa disintegrasi politik, antagonisme, ketegangan dan konflik antar partai politik merupakan ciri terpenting dalam politik Indonesia tahun 1950-an. Misalnya, konflik antara Islam dan Nasionalis sudah mulai pada awal-awal kemerdekaan dan menemukan wujudnya yang paling kongkret dalam perdebatan Konstituante tentang dasar negara. Selain kemampuan dalam menjelaskan soal integrasi dan disintegrasi politik, pemetaaan Herbert Feith mempunyai beberapa kelamahan. Salah stau yang paling penting adalah: pertama, Feith hanya memasukan aliran politik dari partai-partai besar dalam pemetaannya, sehingga mengabaikan kelompok partai dengan kekuatan sedang dan kecil seperti PSII, Parkindo, Partai katolik, Perti, IPKI, PRN, GPPS, Acoma, Murba, R Soejono Prawirosoedarso (Madiun), gerakan Pilihan Sunda, Radja Keprabon dan sebagainya. Dari segi keragaman ideologis terlihat jelas bahwa Feith tidak melihat peran penting dari Partai-partai berbasisikan agama non Islam, faktor kedaerahan (Sunda), faktor kultural (Keprabon) dan variasi ideologis seperti muncul dalam partai Murba. Kedua, Feith juga tidak melihat danya bentuk-bemtuk konflik politik berbasisikan politik etnis-regionalisme pada akhir tahun 1950-an, seperti muncul dalam gerakan Permesta dan gerakan di Aceh yang dipimpin oleh Tengku D Bereueh. Atau bagaimana konstelasi kesukuan dalam tiga kasus di Sumatera Timur seperti yang disampaikan oleh William Liddle. Ketiga, Feith mengabaikan peran politik yang dimainkan oleh Soekarno dan Militer yang semakin penting terutama akhir tahun 1950-an. Soekarno pernah menyampaikan sebuah pemikiran yang menarik yakni: ide integrasi politik-ideologis mellaui Nasakom (muncul dari gagasannya dalam buku “Di Bawah bendera Revolusi)” . Ide persatuan ideologis ini kemudian memunculkan konsep Partai Tunggal. Ide Partai Tunggal juga pernah disampaikan oleh Tan Malaka- dalam persatuan Perjuangan- dan mendapatkan dukungan Soedirman (Tentara). Soekarno bahkan secara ekplisit menyampaikan pidato “kuburkan partai politik” dan mulai menjalankan ide itu dengan konsep Front nasional. Kemunculan ide nasakom dan Partai tunggal ini merupakan manifestasi dari pemikiran yang menolak  pluralisme ideologis dan kepartaian.

 

  1. Soal : Pemikiran politik Soekarno pada masa demokrasi terpimpin adalah tentang Nasakom. Coba saudara jelaskan tentang Nasakom tersebut, jelaskan latar belakang lahirnya pemikiran politik tersebut?

 

Nasakom adalah singkatan Nasionalis, Agama, dan Komunis, pada masa Orde Lama. Konsep ini diperkenalkan oleh Presiden Soekarno yang berfungsi sebagai satu jalan untuk menyatupadukan golongan-golongan barlainan haluan politik di Indonesia. Konsep penyatuan ini diharapkan Presiden Soekarno dapat membawa Indonesia menjadi lebih baik.

Sinkretisme pemikiran politik yang digagas oleh Soekarno lewat Nasakom memberikan indikasi kuat bahwa Bung Karno ingin tampil berbeda dalam memperjuangkan rakyat. Dia ingin menjadi mandiri dalam berkarya dan berpolitik sesuai dengan sinkretisme budaya yang masuk dirinya. Dengan begitu, perjuangan kerakyatan di Indonesia diyakini akan mampu menyentuh jantung persoalan, yakni kerakyatan.

Dengan lantang, dia menulis: aliran politikku tidak sama dengan aliran orang lain. Tapi di samping itu, latar belakangku tidak sama dengan siapa pun. Nenekku memberikan kebudayaan Jawa dan mistik. Dari bapak, teosofsime dan Islamisme. Dari ibu, hinduisme dan buddhisme. Sarinah mamberiku humanisme. Dari Pak Cokro datang sosialisme. Dari kawan-kawan datang nasionalisme.

Pengakuan lantang ihwal sinkretisme pemikiran politik tersebut juga ditegaskan lagi oleh Bung Karno. Beliau juga banyak belajar dari Karl Marx, Thomas Jefferson, Sun Yat Sen, dan Gandhi. Semua gerak pemikiran tersebut disintesiskan oleh Bung Karno sehingga dia merasa mampu menyintesiskan pemikiran modern dengan kebudayaan animistik purbakala dan mengambil ibarat dari hasilnya menjadi pesan-pesan pengharapan yang hidup dan dapat dihirup sesuai dengan pengertian dari rakyat kampung.

Bung Karno memang menafsir Nasakom. Walaupun tafsirnya atas Nasakom dikemudian hari menjadikannya sangat superior, bahkan menjadi pemimpin (ter)besar revolusi, komitmennya atas pemihakan hukum marhaen menjadi tonggak sejarah bengsa yang sangat berharga. Ruh gerakan yang lahir dari rahim pemikiran Bung Karno selalu hadir dengan penuh gejolak sampai sekarang. Terbukti tidak sedikit gerakan politik yang masih mengambil jargon Bung Karno dalam berbagai pesta demokrasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted Februari 23, 2011 by rushdyms in Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: